Liburan hampir berakhir, untuk tahun ini liburan aku habiskan di rumah mamah ku di Depok. Hmmm, sejenak tidak melakukan apa - apa, melepaskan semua yang selama ini terasa membuat 'mumet'. Hingga malam hari ketika aku mau kembali ke rumah ku di bekasi, mamah tiba - tiba bertanya " mau ga coba dipegang perutnya ?",
"ha dipegang (aku mengerti maksudnya mengenai aku yang belum diberikan anak), sama siapa ?". Jawabku sekenanya.
"sama mak Jonah, tetangga kita mba Ade dulunya juga lama tidak hamil - hamil, kak Masnah juga, tapi habis dipegang perutnya sama Mak Jonah terus bisa hamil ... "
Aku menarik nafas, dan hanya menjawab, "baiklah".
Setelah bertanya alamat, akhirnya aku dan mas Arie ba'da shubuh berangkat mencari alamat Mak Jonah seorang dukun urut yang terkenal karena biasa mengurut anak bayi yang sakit, ibu yang sedang hamil, atau wanita yang ingin hamil. Memang untuk urusan mengurut bayi aku tidak sangsi lagi, karena keponakan - keponakan ku jika rewel terus dibawa kesana, bisa menjadi tenang.
Tapi untuk urusan wanita yang ingin memiliki anak, aku baru mendengarnya. Fikir ku memang tak ada salahnya jika aku coba, 'mumpung' libur.
Tidak begitu sulit menemukan alamat Mak Jonah, yaitu Jalan Maliki II, sebelum Pasar Agung Depok II.
Masih pagi, udara sangat segar, sepi, meskipun beberapa kali aku melihat orang - orang yang sepertinya akan berjualan di pasar sedang mendorong gerobak ada juga yang menggunakan motor berisi sayuran hasil bumi. Salah satu wajah pekerja keras pribumi,
"Masuk Gang Maliki II, lurus saja nanti mentok belok kanan, ikutin jalan setapak saja nanti ada Masjid dan SD nah disampingnya persis ". Terngiang- ngiang suara sepupuku memberikan arah jalan.
Sedikit bertanya kepada -sepertinya- pedagang yang lewat, dimana rumah Mak Jonah, yang ternyata aku sedang berada di depan rumahnya.
Sedikit amaze karena aku kira beliau seorang dukun urut terkenal yang katanya juga bekerja di rumah sakit untuk menterapi bayi - bayi, ternyata hanya menempati -aku fikir sih kontrakan atau rumah yang memang bentuknya seperti kontrakkan 2 pintu- rumah yang begitu sederhana.
Ketika aku ingin mengetuk pintu tiba - tiba beliau keluar, membawa pakain yang hendak di jemur. Beliau langsung menembak bertanya, "ingin punya anak atau sedang hamil ?". Aku tergugup ketika langsung ditanya seperti itu, dan ku jawab "ingin punya anak Mak".
"hayu masuk". Pinta Mak Jonah
Di dalam rumah bercat hijau pucat ini, hanya ada satu 'bale', kasur yang bisa di gelar di lantai dan bantal di atasnya.
"silahkan tiduran terlentang " lanjut Mak.
Baru dapat ku lihat wajah Mak Jonah dengan jelas, ternyata sudah sangat tua, kira usianya 70-an, sepertinya hanya tinggal sendiri di rumah ini. Menggunakan kebaya tua, kain jarit dan penutup di kepala.
Aku hanya menurut, beliau melanjutkan. "sini emak pegang perutnya ..." Beliau sedikit menekan tangannya di perutku.
"peranakannya ini ada, tapi jauh, nti mak betulin, tapi ga sekarang ya? pamali. Nanti malem, malem Jumat balik lagi kesini, tapi jangan kelamaan soalnya nanti malem banyak yang dateng ada kira - kira sepuluh orang. Trus saya punya rujak nih dikasih sama orang yang nujuh bulanan, yang dah sembilan taon belon punya anak, dimakan ya, mudah - mudahan ketularan " cerocos Mak jonah dalam logat betawi yang kental.
"terus nanti kalo kesini, bawa toge, wortel, remis sama ikan lele yang dah mateng". Aku dan suami hanya berpandangan.
Setelah selesai, kami berpamitan pulang, dalam perjalanan kami saling terdiam sibuk bertanya tentang pesan Mak Jonah dalam pikiran masing - masing. Remis, Ikan lele, tauge, wortel, hmm sebetulnya makanan yang memang sangat baik untuk kesuburan, tetapi yang aneh mengapa harus dibawa ke tempat Mak dan mengapa prosesi 'megang perut' nya mesti malem Jum'at. Ah, jelas kami dua manusia naif sangat bingung, berdiskusi sejenak ternyata kami tidak juga menemukan sesuatu yang 'pas' di fikiran kami.
Kami pun berdiskusi dengan bapak ku, kuceritakan semua kejadiannya. Dan bapak hanya berkata :
"kemarin sewaktu berobat ke dokter percayanya sama siapa? dikasih obat ga? percayanya masih sama siapa?". Kami terdiam. "bersihkan hati, nanti kalau memang mau ke sana lagi, bersihkan hati dengan cara sholat hajat minta sama Allah terlebih dahulu ..." Lanjut Bapak.
Mendengar nasihat bapak kamipun memutuskan untuk berangkat lagi ke sana nanti malam.
Setelah hubby pulang kerja, kamipun berangkat ke tempat Mak Jonah, berhubung hubby sampai rumah ba'da maghrib akhirnya kami baru kesana sekitar jam tujuh malam. Dan benar saja, tadi pagi Mak berpesan agar datang lebih cepat karena biasanya kalau malam Jumat banyak yang datang. Jadilah kami 'pasien' nomor sekian.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran kami. Seperti sebelumnya Mak kemudian memintaku untuk membuka baju bagian perut, dan meminta mas untuk membuka makanan yang dibawa sambil membaca sesuatu yang dicontohkan Mak, lengkap dengan gerakannya. Tidak hanya sampai di situ ternyata Mak juga punya doa khusus yang harus kami baca nanti malam.
Hehe, kejadian ini sudah hampir satu tahun yang lalu, dan merupakan bagian penting dari semua ikhtiar kami untuk mendapatkan baby. Ah, Rabb ku serahkan semuanya padaMu.
"ha dipegang (aku mengerti maksudnya mengenai aku yang belum diberikan anak), sama siapa ?". Jawabku sekenanya.
"sama mak Jonah, tetangga kita mba Ade dulunya juga lama tidak hamil - hamil, kak Masnah juga, tapi habis dipegang perutnya sama Mak Jonah terus bisa hamil ... "
Aku menarik nafas, dan hanya menjawab, "baiklah".
Setelah bertanya alamat, akhirnya aku dan mas Arie ba'da shubuh berangkat mencari alamat Mak Jonah seorang dukun urut yang terkenal karena biasa mengurut anak bayi yang sakit, ibu yang sedang hamil, atau wanita yang ingin hamil. Memang untuk urusan mengurut bayi aku tidak sangsi lagi, karena keponakan - keponakan ku jika rewel terus dibawa kesana, bisa menjadi tenang.
Tapi untuk urusan wanita yang ingin memiliki anak, aku baru mendengarnya. Fikir ku memang tak ada salahnya jika aku coba, 'mumpung' libur.
Tidak begitu sulit menemukan alamat Mak Jonah, yaitu Jalan Maliki II, sebelum Pasar Agung Depok II.
Masih pagi, udara sangat segar, sepi, meskipun beberapa kali aku melihat orang - orang yang sepertinya akan berjualan di pasar sedang mendorong gerobak ada juga yang menggunakan motor berisi sayuran hasil bumi. Salah satu wajah pekerja keras pribumi,
"Masuk Gang Maliki II, lurus saja nanti mentok belok kanan, ikutin jalan setapak saja nanti ada Masjid dan SD nah disampingnya persis ". Terngiang- ngiang suara sepupuku memberikan arah jalan.
Sedikit bertanya kepada -sepertinya- pedagang yang lewat, dimana rumah Mak Jonah, yang ternyata aku sedang berada di depan rumahnya.
Sedikit amaze karena aku kira beliau seorang dukun urut terkenal yang katanya juga bekerja di rumah sakit untuk menterapi bayi - bayi, ternyata hanya menempati -aku fikir sih kontrakan atau rumah yang memang bentuknya seperti kontrakkan 2 pintu- rumah yang begitu sederhana.
Ketika aku ingin mengetuk pintu tiba - tiba beliau keluar, membawa pakain yang hendak di jemur. Beliau langsung menembak bertanya, "ingin punya anak atau sedang hamil ?". Aku tergugup ketika langsung ditanya seperti itu, dan ku jawab "ingin punya anak Mak".
"hayu masuk". Pinta Mak Jonah
Di dalam rumah bercat hijau pucat ini, hanya ada satu 'bale', kasur yang bisa di gelar di lantai dan bantal di atasnya.
"silahkan tiduran terlentang " lanjut Mak.
Baru dapat ku lihat wajah Mak Jonah dengan jelas, ternyata sudah sangat tua, kira usianya 70-an, sepertinya hanya tinggal sendiri di rumah ini. Menggunakan kebaya tua, kain jarit dan penutup di kepala.
Aku hanya menurut, beliau melanjutkan. "sini emak pegang perutnya ..." Beliau sedikit menekan tangannya di perutku.
"peranakannya ini ada, tapi jauh, nti mak betulin, tapi ga sekarang ya? pamali. Nanti malem, malem Jumat balik lagi kesini, tapi jangan kelamaan soalnya nanti malem banyak yang dateng ada kira - kira sepuluh orang. Trus saya punya rujak nih dikasih sama orang yang nujuh bulanan, yang dah sembilan taon belon punya anak, dimakan ya, mudah - mudahan ketularan " cerocos Mak jonah dalam logat betawi yang kental.
"terus nanti kalo kesini, bawa toge, wortel, remis sama ikan lele yang dah mateng". Aku dan suami hanya berpandangan.
Setelah selesai, kami berpamitan pulang, dalam perjalanan kami saling terdiam sibuk bertanya tentang pesan Mak Jonah dalam pikiran masing - masing. Remis, Ikan lele, tauge, wortel, hmm sebetulnya makanan yang memang sangat baik untuk kesuburan, tetapi yang aneh mengapa harus dibawa ke tempat Mak dan mengapa prosesi 'megang perut' nya mesti malem Jum'at. Ah, jelas kami dua manusia naif sangat bingung, berdiskusi sejenak ternyata kami tidak juga menemukan sesuatu yang 'pas' di fikiran kami.
Kami pun berdiskusi dengan bapak ku, kuceritakan semua kejadiannya. Dan bapak hanya berkata :
"kemarin sewaktu berobat ke dokter percayanya sama siapa? dikasih obat ga? percayanya masih sama siapa?". Kami terdiam. "bersihkan hati, nanti kalau memang mau ke sana lagi, bersihkan hati dengan cara sholat hajat minta sama Allah terlebih dahulu ..." Lanjut Bapak.
Mendengar nasihat bapak kamipun memutuskan untuk berangkat lagi ke sana nanti malam.
Setelah hubby pulang kerja, kamipun berangkat ke tempat Mak Jonah, berhubung hubby sampai rumah ba'da maghrib akhirnya kami baru kesana sekitar jam tujuh malam. Dan benar saja, tadi pagi Mak berpesan agar datang lebih cepat karena biasanya kalau malam Jumat banyak yang datang. Jadilah kami 'pasien' nomor sekian.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran kami. Seperti sebelumnya Mak kemudian memintaku untuk membuka baju bagian perut, dan meminta mas untuk membuka makanan yang dibawa sambil membaca sesuatu yang dicontohkan Mak, lengkap dengan gerakannya. Tidak hanya sampai di situ ternyata Mak juga punya doa khusus yang harus kami baca nanti malam.
Hehe, kejadian ini sudah hampir satu tahun yang lalu, dan merupakan bagian penting dari semua ikhtiar kami untuk mendapatkan baby. Ah, Rabb ku serahkan semuanya padaMu.