Jumat, 03 Desember 2010

sekrang aku di sini
dengan udara yang berhembus sangat berbeda
dengan semangat yang sangat berbeda
aku suka ...
terima kasih Rabb,

ah, tetapi ada beberapa yang masih mengganjal
meskipun samar - samar ku bayangkan kegundahan mereka
kecemasan akan sosok yang diharapkan
dan semua rasa itu menumpuk disini,,,

dan aku tak suka Rabb,,,
memikirkan semua rasa itu
rasa yang belum tentu kebenaran dan keberadaannya ...

biarkan aku dengan keadaan ini ya Rabb,,,
keadaan yang aku yakin Engkaulah yang menuntunnya.
Salam sayang ku selalu untuk mereka di sana...

Kamis, 29 Juli 2010

Sehelai Bulu Mata


Lagi buka - buka laptop suami, eh nemuin satu cerita yang cukup mengingatkan,,,

Submitted by : Komara Hidayat
Sumber : Arroisi, Abdurrahman K.H.

Share ah, punten y pak kyai Arroisi semoga cerita ini bisa mengingatkan lagi pembaca yang lain... n punten lagi pak ada yg diedit sedikit, tp tetep ga merubah esensi kok ...
Judulnya : Sehelai Bulu Mata

Begini ceritanya ....

Konon di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia bersikeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu."
"Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yg kau maksudkan? Di sini tdk ada siapa kecuali aku dan suaramu."
"Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat.
Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yg memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yg mendengarkan."
Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku,
"Saya yang berkata kotor."
Lidah menambah, "Saya yang menyakiti hati orang lain." Tangan meneruskan, "Saya
yang mencuri ."
Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari untuk mencuri." "Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu", ucap malaikat. Orang tersebut tidak
dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam.
Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu.
Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yg amat lembut dari sehelai bulu matanya:
"Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi."
"Silakan", kata malaikat.
"Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengh malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah
berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun sehelai bulu matanya saja yg terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka
saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan."
Konon, dengan kesaksian sehelai bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar
suara bergaung kepada para penghuni surga: "Lihatlah, Hamba Tuhan
ini masuk surga karena pertolongan sehelai bulu mata."

Temans, anggota tubuh yang Allah ciptakan di tubuh kita ini tidak hanya berfungsi untuk membantu kegiatan sehari - hari kita, tetapi lebih jauh dari itu. Yakni sebagai alat Allah untuk mengawasi tingkah laku kita ... jadi waspadalah ! waspadalah ! hehe


Sabtu, 05 Juni 2010

aku menyebutnya "Hijrah" ...

Menginjak tahun ke dua pernikahan kami saat ini, Allah masih memberikan aku kesempatan untuk aku menikmati dunia ini hanya berdua dengan my hubby. Insya Allah aku tetap bersyukur ya Allah, berilah aku kekuatan untuk selalu bersyukur.

Layar dalam fikiran ini kembali berputar 1,5 tahun yang lalu, saat - saat dimana aku menjalani proses dengan seseorang yang sekarang menjadi my hubby, saat itu aku selalu memimpikan akan memiliki suatu kehidupan di suatu tempat bersama keluarga tercinta, di suatu tempat yang berada cukup jauh dari kota tempat tinggal ku sekarang, entah mengapa aku selalu membayangkan sesuatu yang indah jika aku keluar dari kota ini, mencari sesuatu yang baru ceritanya. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk membeli sebuah rumah, rumah yang tidak terlalu besar (spt dalam angan2 ku) di lokasi yang nyaman, meskipun di sebuah kota yang jika orang bertanya "beli rumah dimana ?", dan aku menjawab "Bekasi Timur ?" pasti mereka akan bertanya lagi "lho kok bekasi ? jauh banged ? kan disana panas ?" dan aku hanya bisa tersenyum.

yah apapun yang orang bilang, mereka hanya tidak mengerti bagaimana perasaan ku saat melihat rumah itu, jatuh cinta, iya, itu yang pertama kali kami rasakan ketika untuk pertama kali melihat lokasi rumah itu. Suka - sangat suka- semoga memang benar jodoh kami selamanya. Banyak hal yang harus dipikirkan dengan matang sebenarnya ketika kami harus meninggalkan kota ini (depok.red).
Yang pertama, Orang tua. Status aku dalam keluarga adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan semua kakak - kakak ku adalah laki - laki, dan orang tua aku cukup berat jika aku harus meninggalkan mereka. Sebetulnya ada rasa dalam hati untuk membawa mereka serta, tapi yah mereka masih memiliki kehidupan sosial di sana yang tidak mungkin bisa langsung ditinggalkan begitu saja. Dan pada awalnya mamah dan bapakku merasa seperti di atas -berat jika aku harus pisah dengan mereka- tetapi alhamdulillah, mereka adalah orang - orang yang hebat, berpikiran tidak sempit dan sangat paham agama. Lambat laun dalam perjalanan proses renovasi rumah mamahku menunjukkan dukungannya kepada kami alhamdulillah. Satu hal yang sangat penting mernurutku selain Ridho agama dan suami adalah Ridho orang tuaku. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah semoga ini awal yang baik.
Tinggal bersama orang tua sendiri pada dasarnya sangatlah menyenangkan, aku dan suami bekerja. Aku sendiri baru pulang pada jam 16.30 dan my hubby 18.00, aku berangkat mengajar pukul 06.00 dan my hubby 05.30. bangun tidur mamahku tersayang sudah membuatkan sarapan dan pulang mengajar mamahku juga sudah menyiapkan makan malam. Hmmmm, fabiayyi alaikuma tukaziban....
Tetapi sebetulnya kondisi itu tidaklah sehat (menurut aku dan my hubby) , tidak ada kemandirian mengatur disana. Inilah salah satu hal yang membuat ku sangat ingin tau kemampuan aku jika tinggal hanya berdua nanti, bisakah aku mengelola semuanya sendiri ???

Yang kedua, pekerjaanku. SMPIT Darul Abidin,,,,,,, aku mengajar di sekolah itu, sebuah sekolah yang bisa dibilang eksklusif berbasis Islam. Hampir tiga tahun aku mengajar di sana, banyak sekali yang telah kudapatkan ilmu, pengalaman, dan teman - teman yang hebat. Sebuah tempat yang sangat bagus untuk proses belajar dan memperbaiki diri. Bagi yang bercita - cita menjadi pendidik sejati (jiah ...) aku rasa bagus jika bekerja dan mengabdi disana. Pada intinya aku sudah nyaman bekerja disana, seluk beluk sekolah sudah mengerti, tetapi entah mengapa hasrat memiliki rumah sendiri begitu kuat, hingga membuat aku berfikir "rizky ku Allah yang mengatur" jadi biarlah kuikuti kata hati ini..

tanggal 26 Juni nanti aku "Hijrah", berharap seperti Hijranya Nabi Muhammad SAW, menemukan sesuatu yang lebih baik disana baik untuk dakwahku, ibadahku, karir ku, dan keluargaku. Bismillah ...

Minggu, 09 Mei 2010

Menaklukan MOnas....







Berkunjung ke sebuah tempat, yang untuk sebagian orang sangat biasa, tapi untukku sangat luar biasa "Monumen Nasional" . Mengapa begitu luar biasa?


1. Pertama kali aku ke tempat ini sewaktu SD kelas 1, kira2 tahun 1994. Saat itu ada agenda kunjungan sekolah. Dan karena kunjungan sekolah, ditambah pula hari sabtu antrian untuk ke puncak Monas sangatlah panjang, entah mungkin pada saat itu aku masih kecil jadi aku tak tahan untuk mengantri lama - lama, akhirnya aku (ditemani mamaku) memutuskan untuk keluar dari antrian kemudian naik tangga menuju ke cawannya saja. Sewaktu pulang saku sangat - sangat menyesal tidak sampai ke menara, karena teman2 ku bilang emasnya "GUede banged" dan mereka memegangya.


2. Kunjungan kedua ku sewaktu aku sudah lulus kuliah, kira2 tahun 2008. Pada saat itu aku dan 3 orang teman ku Achi dan Susi melakukan jalan - jalan mengelilingi Jakarta. Tujuan terakhir ke Monas, kira2 jam 14.30 kami sampai di sana. Mencari pintu msuk lumayan membuat stress, satu kali putaran mengelilingi "proyek mercusuar Soekarno" itu lumayan pusing. sampai kami temukan bagaimana cara masuknya, waktu telah menunjukkan pukul 15.00 yang berarti pengunjung sudah tidak bisa masuk *twing twing. Akhirnya kami pulang dengan hanya berfoto2 di halamannya. Penasaran naik 2 derajat untuk melihat ke-gedean emas.


3. My Hubby menyetujui ajakanku untuk sekali lagi mengunjungi tempat itu (2010), dengan target "Puncak Api Emas Monas". sampai di sana pukul 13.30, membeli tiket 2 kali, tiket pertama Rp. 2000 dan tiket yang kedua tiket untuk naik ke menara Rp. 7500. 1 lift untuk 1000 pengunjung naik dan turun, jadilah kami antri lift 1 1/2 jam-an. Ck,,ck,,ck,,, huffft (dumelan ketika antri). Antrian selesai, kami memasuki lift sampai lantai 3 (puncak Monas), dan ketika keluar lift ternyata ada antrian lagi, antrian untuk keluar/turun, Wuiiiiiih!!!.
Akhirnya sampai di puncak Jakarta, angin cukup kencang berhembus. Dengan membayar 2000 rupiah aku menggunakan teropong untuk melihat detil Kota Jakarta, tapi yah langit Jakarta sangat terbatas dengan jarak pandang yang tertutup polusi. Kemudian Ku cari2 sesuatu yg menjadi tujuan ku datang ke sini. Mana emasnya !!!!!!! ternyata tidak terlihat sama sekali, karena emas Monas dipagar hingga rapat. What? Jadi 16 tahun kemarin aku dibohongi anak kelas 1 SD!!!!.



Jumat, 30 April 2010

Preakly Heat


Bener ga tuh, klo Preakly Heat bahasa Indonesianya "biang keringet". Hihi, Sok pake istilah Inggris, padahal ga tau bener apa salahnya. Tp bukan itu yg mau di bahas di sini, bukan tentang gramatikal bahasa Inggris - Indonesia dan bukan juga tentang sejarah biang keringat. Terus kenapa judulnya itu ? yah biar kebaca keren aja gitu (*twing). By d' way it's all about "HOT ... HOT ... n ..HOT".
Sudah mau sebulan ini kota tempat kami tinggal -depok city- berasa puanas banged. Hampir 35 derajat suhu pada siang harinya, wew hampir menyamai gurun pasir d Bima sana sepertinya (emang ada gurun di Bima ya ? ngarang.com). Depok yg terkenal dengan keteduhannya ajah sudah sepanas gitu apa lagi Jakarta, Bekasi, Tanggerang atau daerah pesisir lainnya ya, wiiih ... ga kebayang deh.
Pernah dapet sms yg isinya kaya gini baru - baru ini :
"Empat hari ke depan jangan pakai baju hitam karena matahari sedang mencapai titik terdekat dengan Bumi. Seluruh wilayah bumi mengalami kenaikan suhu 4 derajat. Berpeluang menyebabkan kanker. Gunakan sunblock dan banyak minum air putih.”

4 derajat ... ? hmmm. Klo yg ini di luar akal sehat, atau sms yang ini :

“Dikabarkan besok terjadi kondisi di mana jarak matahari-bumi semakin dekat. Kemungkinan besar radiasinya dapat merusak kulit, terjadi antara jam 8 – 16. Jangan pakai pakaian hitam, sebab penyerapan energi matahari dapat merusak kulit hanya dalam 5 menit.”

wow, percaya ga percaya tapi bumi ini memang terasa makin puanas, baru kali ini lagi nih, tidur hrs pake kipas angin nonstop (padahal rumah ku teduh sekali, jd g perlu kipas angin, hexos, apalagi AC), tapi sekarang malem2 baju basah gara2 keringet dan muncul preakly heat di leher yg sangat membuat tidak nyaman. huaaaa ... gatel .. gatel .. gatel ..
Tapi sebagi guru geografi kurang lebih analysis (jiah ...) ku seperti ini :
sedikit atau banyak global warming memang memberikan kontribusi untuk peningkatan suhu bumi, tetapi untuk kasus bulan April ini sangat lah khusus, karena memang merupakan sebuah siklus peningkatan suhu bumi yang rutin terjadi setiap tahunnya, meskipun setiap tahun peningkatan suhu tersebut berbeda. Perubahan ini diakibatkan oleh bertiupnya "Angin Muson Timur" yaitu angin yang bertiup setelah "Angin Muson Barat", angin muson menyebabkan negara kita tercinta ini hanya memiliki 2 musim saja, sedikit mengutip dari wikipedia (biar lebih valid gitu) seperti ini penjelasan ttg "Angin Muson Timur" :

"Angin Muson Timur adalah angin yang bertiup pada periode Bulan April - Oktober (Indonesia). Angin ini bertiup saat matahari berada di belahan bumi utara, sehingga menyebabkan benua Australia musim dingin, sehingga bertekanan maksimum dan Benua asia lebih panas, sehingga tekananya minimum. Menurut hukum Buys Ballot, angin akan bertiup dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekenan minimum, sehingga angin bertiup dari benua Australia menuju benua Asia, dan karena menuju Utara Khatulistiwa/Equator, maka angin akan dibelokkan ke arah kanan. Pada periode ini, Indonesia akan mengalami musim kemarau akibat angin tersebut melalui gurun pasir di bagian utara Australia yang kering dan hanya melalui lautan sempit".

See...bulan april adalah bulannya pancaroba, start untuk berpanas2 ria insya allah untuk 6 bulan kedepan, bulannya taneman2 di halaman rumah ku mulai menguning, bulannya nyamuk DBD (Demam BerDarah) untuk bereproduksi massal yg artinya juga bulannya siaga DBD.
Minum air putih lebih banyak merupakan salah satu tindakan yang bijaksana dalam kondisi seperti ini, karena bagaimanapun mengkonsumsi air putih di saat suhu sedang tinggi sangatlah bagus untuk menjaga keseimbangan tubuh, yaitu mempertahankan suhu di dalam tubuh tetap "adem" supaya tidak kaget dengan perubahan yang tidak biasa. Jika tubuh seimbang, Insya Allah kondisi tubuh jg akan tetap vit.

Sabtu, 17 April 2010

On Facebook

Membuka face book, menemukan profile picture beberapa teman yang sangat indah. Ayah, bunda dan dede bayi imutnya. Ya Allah, satu orang diantara mereka menikah berbarengan dengan ku, dan dua yang lain lebih dahulu kira - kira sebulan daripada aku.
Hmmm .. ku telusuri temanku yang lain, satu orang kutemukan lagi sedang berbahagia dalam kehamilan besarnya, dan sedang menanti untuk persalinan baby pertamanya, teman ku itu belakangan menikah setelah aku.

Subhanallah, Ku coba menikmati rasa cemas ini ya Allah, menikmati sensasi hormon progesteron yang sedang naik dalam tubuh ku, menyembur memenuhi saraf saraf ku. Sampai pada kurasakan hangat dalam kelopak matakku, meskipun 'endorfin' berusaha memunculkan sejuta perasaan senang yang lain, tapi ternyata rasa itu jauh lebih kuat. Menjebol sisa akal sehat ku yang juga ikut membantu. Hingga pada akhirnya ku kalah dengan maksud mengeluarkan sekalian semua itu, ku keluarkan semua perasaan marah dan iri dihati, perasaan ketidakadilan yang sempat kuamini, semuanya, dan kuharap tanpa sisa.

Kututup wajah ini sekuat - kuatnya, berharap dalam kegelapan kutemui cahaya , Hingga ku dapati wajah sejuk itu, wajah lelaki yang setahun ini selalu menjagaku dengan bahunya yg kekar, lelaki yang selama ini selalu menuntunku untuk lebih dekat denganNya, lelaki yang selama ini membuat aku tersenyum dengan sikap, kejutan dan kesabarannya yang tak terbatas, lelaki yang tak pernah sedikitpun menuntut sesuatu yang tak tak terjangkau oleh ku (bahkan diriku sendiri pernah mengutuk diri ini untuk sesuatu yang tak bisa ku lakukan),,,

Astagfirullah,
Seringkali kuterpaku di depan satu pintu kebahagiaan yang tertutup ya Allah, padahal ... ketika satu pintu kebahagiaan ditutup, maka Engkau membuka pintu bahagia - bahagia yang lain. Tunjukkan aku selalu dalam jalanMu ya Allah.
Aku yakin pintu itu belum waktunya kumasuki. Hingga saat indah itu tiba, aku yakin Engkau pasti akan memberikan segalanya.

Jumat, 09 April 2010

Dua Nada

Iseng buka buku diary yang dah lama banged ga dibuka, ternyata menemukan puisi yg dulu aku bener bener jatuh cinta sama isinya, dulu. Dah cukup lama sih nemuin ini puisi, yah kira kira bulan februari tahun 2007 di sudut Koran Tempo. Bagus banget kalau menurut aku, dalem (jiah sok ngerti puisi ... ^_^). Penulisnya Acep Zam Zam Noer.

Dua Nada
1.
Mungkin telah ribuan senja
ku lewati dalam hidupku
Namun ada satu senja yang membuatku begitu tersiksa
senja disaat aku ingat pada mu
Dan sangat ingin ingin berada di dekatmu
senja di saat aku cemas mengharap kabar dari mu.

2.
Ada banyak laut dan bahkan samudera luas
yang pernah kualami dalam pengembaraanku
namun hanya ada sebuah selat yang membuatku hampir gila
selat yang memisahkan dua buah pulau
dimana aku dan kamu
berada pada daratan yang berbeda
aku tak bisa mendengarmu
dan kau tak bisa melihatku meloncat dari ujung dermaga.

Selasa, 06 April 2010

hikmah itu ... ternyata ada di pembagian rapot mid semester kelas 8

Sabtu, 3 maret 2010.

Seperti biasa pembagian rapot pasti menyita tenaga dan fikiran. Yah kita diharuskan untuk mengisi 3 jenis rapot. Rapot angka, Narasi dan Sikap. Biarpun Cuma 23 siswa dalam kelas 8, tetapi kalau masing masing siswa menerima 3 rapot berarti total 69 rapot. Yah lumayan keriting, lumayan pusing. Tetapi biarpun begitu itu semua kan terobati jika nilai mereka rata rata memuaskan kemudian bertemu orang tua yang puas dengan perkembangan anak anak mereka.

Ya, rasa kagum itu menyeruak ke dalam diriku, ketika melihat bagaimana para orang tua, sangat antusias mengambil laporan perkembangan anak mereka sampai dengan pertengahan semester 2 ini. Begitu banyak ilmu yang kudapat dari mereka. Dua orang tua yang akan ku ceritakan kali ini adalah orang tua dari sebut saja J dan orang tua dar siswa U.

Pertama J, panggilan akrab anak ini A. Dia seorang anak penyandang autis, orang tuanya sengaja memasukkan anaknya bukan ke sekolah khusus dengan alasan yang cukup logis, ingin anaknya diperlakukan tidak berbeda dengan teman – teman lainnya. Aku sangat suka anak itu, daya ingatnya sangat hebat. “Dalam usia 8 tahun sudah bisa menghapal surat Al Mulk” cerita orang tuanya. Dan sikapnya yang sopan membuat siapapun pst senang terhadapnya.

Seperti biasa ketika pengambilan rapot, orang tua A terlihat sedikit tidak percaya diri ketika akan membicarakan anaknya. Maklum saja di kelas juga ada beberapa orang tua yang lain, wajah ibunya menunjukkan rasa cemas keibuan, dan aku yakin ibu itu sangat sabar menghadapi segala kestimewaan anaknya. Dan sang ayah yang sangat terlihat tenang, setenang seorang ayah yang sudah yakin kalau anaknya pasti akan menjadi juara kelas. Tak banyak sebetulnya pembicaraan kami, mereka tidak terlalu mempermasalahkan nilai pelajaran anak mereka, dan kami pun berusaha untuk sangat sangat mengerti itu. Bebrapa solusi kami bicarakan diantaranya tentang bagaimana jika A dipisahkan ketika sedang tes dan bagaimana usaha pendampingan ketika test. Wajah teduh ibu itu tiba tiba berkaca-kaca ketika aku mulai membuka bagaimana sikap teman – teman A terhadap A. Maaf bu, tak bermaksud aku membuat ibu sedih. Aku bercerita bagaimana ada beberapa temannya yang masih suka mledek A. Ough, ingin rasanya tannganku meninju wajahku sendiri karena telah membicarakan ini, tak tega rasanya melihat wajah ibu itu sedih. Sebetulnya ingin ku kabarkan sejuta kebaikan – kebaikan tentang anaknya saja, kita tak usah membicarakan sesuatu yang buruk – buruk ttg semuanya, ah… tapi lidah bodoh ini terlanjur berkata. Pemikiran polosku pada saat itu sebetulnya agar orang tua A juga tahu kondisi teman – teman A terhadap A di sekolah. Dan agar mereka juga bisa turut membantu membentengi A jika temannya meledek seperti itu. Semoga mereka mengerti itu. Hmm … Subhanallah, betapa besar ladang dakwah mereka di dunia. Betapa Allah sayang terhadap mereka. Menyeruak rasa haru dalam hatiku, akan kah ku akan setegar mereka jika kelak Allah mengirimkan malaikat seperti A kepadaku.

Kedua, orang tua U. Anak ini berbeda 180 derajat dengan A, anak ini sangat pintar, mandiri dan sedikit pendiam. Pendiam ? ya, karena A sangat tidak pendiam. Agak speechless ketika akan membicarakan anak ini dengan orang tuanya. Tidak ada hal – hal yang perlu kami permasalahkan, dan aku memulainya dengan hal yang sangat bodoh. “alhamdulillah, semangat belajar U meningkat di semester 2 ini y bu…” krik..krik…(tidak ada respon) “itu saya lihat dari bagaimana U mengerjakan tugas dan PR PRnya …” krik ..krikk (masih jg tidak ada respon” akhirnya ku pancing juga dengan beberapa tindakan negative anaknya di sekolah “ iya nih bu, pernah suatu waktu jawaban ulangan U sama persis dengan hasil ulangan Y (teman sekelasnya) , ketika ditanya iya memang mereka saling mencontek …” krik..krik. Dug apalagi yang akan aku katakan. Kemudian aku menambahkan dengan sok tahu “..untuk rapot sikap, keberanian U juga belum ada perubahan …” aku menambahkan beberapa contoh kasus. Dan aku terdiam, oh ayolah Bu, Pa tunjukkan ekspresimu (dan aku melihat U di diri oran tua itu). “ya sebetulnya kami bukan tipe orang tua yang menuntut anak dengan target – target tertentu bu Zahro, kami lebih melihat proses jika U enjoy dengan proses belajar saja kami sudah senang … “ dan seterusnya jawaban yang begitu diplomatis, aku terperosok jauh ke dalam jurang kemudian jurang itu tertutupi dengan rimbunan belukar. Dan ibu itu terus berbicara tentang teori pendidikan yang aku sendiri tidak sempat lagi menyimak apa maksudnya, perasaanku sudah terhenyak jauh ke dalam sehingga yang bisa kuamati gerakan –gerakan bibir ibu U dan garis-garis di wajahnya yang menunjukkan kalau beliau sudah sangat paham dengan anaknya dan dunia pendidikan. Dan seakan akan berkata “Bu Zahro…you is too young , nothing, kamu tidak berhak men-judge anak saya seperti ini dan seperti ini”. Selesai.

haaaaaaaaait, jiaaaaaaaaaaaaaah. sleb! kapak maut naga geni 212 tepat menancap di pelipis ini.

Sabtu, 03 April 2010

kota tua


tempat yang tidak pernah ada matinya ,,,, menara Syah Bandar.