Sabtu, 3 maret 2010.
Seperti biasa pembagian rapot pasti menyita tenaga dan fikiran. Yah kita diharuskan untuk mengisi 3 jenis rapot. Rapot angka, Narasi dan Sikap. Biarpun Cuma 23 siswa dalam kelas 8, tetapi kalau masing masing siswa menerima 3 rapot berarti total 69 rapot. Yah lumayan keriting, lumayan pusing. Tetapi biarpun begitu itu semua kan terobati jika nilai mereka rata rata memuaskan kemudian bertemu orang tua yang puas dengan perkembangan anak anak mereka.
Ya, rasa kagum itu menyeruak ke dalam diriku, ketika melihat bagaimana para orang tua, sangat antusias mengambil laporan perkembangan anak mereka sampai dengan pertengahan semester 2 ini. Begitu banyak ilmu yang kudapat dari mereka. Dua orang tua yang akan ku ceritakan kali ini adalah orang tua dari sebut saja J dan orang tua dar siswa U.
Pertama J, panggilan akrab anak ini A. Dia seorang anak penyandang autis, orang tuanya sengaja memasukkan anaknya bukan ke sekolah khusus dengan alasan yang cukup logis, ingin anaknya diperlakukan tidak berbeda dengan teman – teman lainnya. Aku sangat suka anak itu, daya ingatnya sangat hebat. “Dalam usia 8 tahun sudah bisa menghapal surat Al Mulk” cerita orang tuanya. Dan sikapnya yang sopan membuat siapapun pst senang terhadapnya.
Seperti biasa ketika pengambilan rapot, orang tua A terlihat sedikit tidak percaya diri ketika akan membicarakan anaknya. Maklum saja di kelas juga ada beberapa orang tua yang lain, wajah ibunya menunjukkan rasa cemas keibuan, dan aku yakin ibu itu sangat sabar menghadapi segala kestimewaan anaknya. Dan sang ayah yang sangat terlihat tenang, setenang seorang ayah yang sudah yakin kalau anaknya pasti akan menjadi juara kelas. Tak banyak sebetulnya pembicaraan kami, mereka tidak terlalu mempermasalahkan nilai pelajaran anak mereka, dan kami pun berusaha untuk sangat sangat mengerti itu. Bebrapa solusi kami bicarakan diantaranya tentang bagaimana jika A dipisahkan ketika sedang tes dan bagaimana usaha pendampingan ketika test. Wajah teduh ibu itu tiba tiba berkaca-kaca ketika aku mulai membuka bagaimana sikap teman – teman A terhadap A. Maaf bu, tak bermaksud aku membuat ibu sedih. Aku bercerita bagaimana ada beberapa temannya yang masih suka mledek A. Ough, ingin rasanya tannganku meninju wajahku sendiri karena telah membicarakan ini, tak tega rasanya melihat wajah ibu itu sedih. Sebetulnya ingin ku kabarkan sejuta kebaikan – kebaikan tentang anaknya saja, kita tak usah membicarakan sesuatu yang buruk – buruk ttg semuanya, ah… tapi lidah bodoh ini terlanjur berkata. Pemikiran polosku pada saat itu sebetulnya agar orang tua A juga tahu kondisi teman – teman A terhadap A di sekolah. Dan agar mereka juga bisa turut membantu membentengi A jika temannya meledek seperti itu. Semoga mereka mengerti itu. Hmm … Subhanallah, betapa besar ladang dakwah mereka di dunia. Betapa Allah sayang terhadap mereka. Menyeruak rasa haru dalam hatiku, akan kah ku akan setegar mereka jika kelak Allah mengirimkan malaikat seperti A kepadaku.
Kedua, orang tua U. Anak ini berbeda 180 derajat dengan A, anak ini sangat pintar, mandiri dan sedikit pendiam. Pendiam ? ya, karena A sangat tidak pendiam. Agak speechless ketika akan membicarakan anak ini dengan orang tuanya. Tidak ada hal – hal yang perlu kami permasalahkan, dan aku memulainya dengan hal yang sangat bodoh. “alhamdulillah, semangat belajar U meningkat di semester 2 ini y bu…” krik..krik…(tidak ada respon) “itu saya lihat dari bagaimana U mengerjakan tugas dan PR PRnya …” krik ..krikk (masih jg tidak ada respon” akhirnya ku pancing juga dengan beberapa tindakan negative anaknya di sekolah “ iya nih bu, pernah suatu waktu jawaban ulangan U sama persis dengan hasil ulangan Y (teman sekelasnya) , ketika ditanya iya memang mereka saling mencontek …” krik..krik. Dug apalagi yang akan aku katakan. Kemudian aku menambahkan dengan sok tahu “..untuk rapot sikap, keberanian U juga belum ada perubahan …” aku menambahkan beberapa contoh kasus. Dan aku terdiam, oh ayolah Bu, Pa tunjukkan ekspresimu (dan aku melihat U di diri oran tua itu). “ya sebetulnya kami bukan tipe orang tua yang menuntut anak dengan target – target tertentu bu Zahro, kami lebih melihat proses jika U enjoy dengan proses belajar saja kami sudah senang … “ dan seterusnya jawaban yang begitu diplomatis, aku terperosok jauh ke dalam jurang kemudian jurang itu tertutupi dengan rimbunan belukar. Dan ibu itu terus berbicara tentang teori pendidikan yang aku sendiri tidak sempat lagi menyimak apa maksudnya, perasaanku sudah terhenyak jauh ke dalam sehingga yang bisa kuamati gerakan –gerakan bibir ibu U dan garis-garis di wajahnya yang menunjukkan kalau beliau sudah sangat paham dengan anaknya dan dunia pendidikan. Dan seakan akan berkata “Bu Zahro…you is too young , nothing, kamu tidak berhak men-judge anak saya seperti ini dan seperti ini”. Selesai.
haaaaaaaaait, jiaaaaaaaaaaaaaah. sleb! kapak maut naga geni 212 tepat menancap di pelipis ini.