Kamis, 28 Juni 2012

Mertua ku baik sekali

"DP rumah ini 25 juta, alhamdulillah mertua yang bayarin ... " curhat teman ku dalam obrolan singkat kita.
"iya nih habis pulang kampung, alhamdulillah di bekalin sama orang tua, cukuplah buat beli motor ..." teman ku yang lain.
"kalau rumah ini hasil patungan orang tua ku sama orang tua suami ..."
"kemarin mertua ku habis kirim satu set kursi jati ke rumah ..."

Subhanallah, saya takjub rasanya ketika sedang membicarakan suatu hal tentang rumah misalkan dan terselip kata - kata seperti di atas. Terkadang terselip rasa iri sebetulnya, orang tua ku dan orang tua suami bukanlah juragan tanah, bukan juragan kontrakan, bukan pemilik pulau, bukan pemilik kebon sawit, atau pemilik mas batangan. Orang tua kami begitu sederhana, jauh dari kata melimpah, selain kelapangan hati yang begitu luas. Iri ( hmmm, astaghfirullah, sepertinya jutaan istighfar harus saya ucapkan) , seharusnya saya mengucap beribu hamdalah, dimulai dari proses pembelian rumah kecil kami, suami sama sekali tidak menginginkan ada bantuan dari orang tua, isi rumah pelan - pelan juga kami lengkapi(hihi ... ampuni saya bila ujub ya Allah), alhamdulillah.

Dan keberkahan - keberkahan terus menerus kami temukan dalam bahtera kapal kecil kami, kami yakin doa mereka, doa orang tua kami yang soleh dan solehah yang begitu melimpah untuk rumah tangga kami, sehingga kami tidak mengalami kesulitan untuk mengayuh dan menghadapi percikan - percikan ombak dan batu karang di lautan pernikahan ini, meskipun tanpa bantuan materi berlimpah dari mereka.

"Rabbigfirli waliwalidayya  warhamhuma kamaa rabbayani saghira ", Rabb, sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil ...

Kamis, 10 Mei 2012

Ketika kita bertetangga,


Basicly saya termasuk seorang introvert, ketika remaja dulu saya malas keluar rumah, sangat menikmati yang namanya sendiri di kamar, mencorat coret buku yang saya sebut diary sambil dengerin radio, merubah – rubah posisi isi kamar, pencet –pencet hp dan kalau keluar rumah juga lebih senang sendiri, makan bakso sendiri, ke toko buku sendiri  jalan – jalan di mall lihat – lihat baju sendiri (kasian banget ya), tapi bukan bearti saya tidak punya teman, memang sih teman saya hanya sedikit bisa dihitung oleh jari hehe (tambah kasian ya), jadi kalau teman saya yang sedikit itu kebetulan tidak bisa diajak jalan, biasanya saya tidak akan ambil pusing ya jalan saja sendiri.
Jadi proses sosialisasi tidak sempurna saya lakukan ketika masa – masa remaja, terutama dengan lingkungan sekitar rumah.
Ternyata efek dari semua itu sangat saya rasakan sekarang ini, ketika saya sudah berumah tangga dan memiliki rumah sendiri, mau tak mau saya menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya tidak lagi berada di bawah nama besar orang tua, apa lagi tempat tinggal saya dan suami sekarang cukup jauh dari rumah orang tua, jadi benar – benar kami lakukan dan mulai sendiri dengan nama baik kami sendiri yang harus kami jaga. Keluar dari tempurung yang bernama “introvert” tidaklah mudah, apalagi saya saat ini adalah wanita bekerja yang setiap harinya senin sampai dengan sabtu harus meninggalkan rumah mulai pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore. Yang berarti waktu saya untuk bersosialisasi dengan tetangga juga belum bisa maksimal, ketika hari minggu adalah waktu untuk keluarga terkadang penuh padat untu acara arisan keluarga, mengunjungi orang tua, mengunjungi mertua, atau mengurusi hal – hal yang tidak sempat dilakukan pada hari kerja, tetangga saya pun pada hari minggu punya agenda keluarga masing – masing, yah jadinya begitu deh.
“Gagap nenangga” mungkin itu istilah untuk keadaan saya sekarang ini,  meskipun mungkin mereka paham tentang kondisi yang bekerja jadi tidak bisa maksimal “nenagga”,  dan forum – forum kumpul tetap saya coba datangi seperti arisan Rt di hari minggu, atau kalau pulang mengajar dan kebetulan dekat rumah sedang ada ibu – ibu “ngumpul” saya coba sempatkan bergabung sebentar, tetapi  dengan alasan ingin mandi dan memasak saya kemudian pamit,  hehe padahal lebih kepada males (gak beres banget yakz saya). 

Sekarang saya masih menikmati masa - masa sendiri itu, saat pulang mengajar daripada ngobrol - ngobrol gak jelas sama tetangga yang pada akhirnya hanya membicarakan orang lain bukannya lebih enak kalau duduk di kursi sambil menikmati serial korea, ahaha (introvert voice).

Senin, 09 April 2012

Mak Jonah

Liburan hampir berakhir, untuk tahun ini liburan aku habiskan di rumah mamah ku di Depok. Hmmm, sejenak tidak melakukan apa - apa, melepaskan semua yang selama ini terasa membuat 'mumet'. Hingga malam hari ketika aku mau kembali ke rumah ku di bekasi, mamah tiba - tiba bertanya " mau ga coba dipegang perutnya ?",
"ha dipegang (aku mengerti maksudnya mengenai aku yang belum diberikan anak), sama siapa ?". Jawabku sekenanya.
"sama mak Jonah, tetangga kita mba Ade dulunya juga lama tidak hamil - hamil, kak Masnah juga, tapi habis dipegang perutnya sama Mak Jonah terus bisa hamil ... "
Aku menarik nafas, dan hanya menjawab, "baiklah".

Setelah bertanya alamat, akhirnya aku dan mas Arie ba'da shubuh berangkat mencari alamat Mak Jonah seorang dukun urut yang terkenal karena biasa mengurut anak bayi yang sakit, ibu yang sedang hamil, atau wanita yang ingin hamil. Memang untuk urusan mengurut bayi aku tidak sangsi lagi, karena keponakan - keponakan ku jika rewel terus dibawa kesana, bisa menjadi tenang.
Tapi untuk urusan wanita yang ingin memiliki anak, aku baru mendengarnya. Fikir ku memang tak ada salahnya jika aku coba, 'mumpung' libur.
Tidak begitu sulit menemukan alamat Mak Jonah, yaitu Jalan Maliki II, sebelum Pasar Agung Depok II.
Masih pagi, udara sangat segar, sepi, meskipun beberapa kali aku melihat orang - orang yang sepertinya akan berjualan di pasar sedang mendorong gerobak ada juga yang menggunakan motor berisi sayuran hasil bumi. Salah satu wajah pekerja keras pribumi,
 "Masuk Gang Maliki II, lurus saja nanti mentok belok kanan, ikutin jalan setapak saja nanti ada Masjid dan SD nah disampingnya persis ". Terngiang- ngiang suara sepupuku memberikan arah jalan.
Sedikit bertanya kepada -sepertinya- pedagang yang lewat, dimana rumah Mak Jonah, yang ternyata aku sedang berada di depan rumahnya.
Sedikit amaze karena aku kira beliau seorang dukun urut terkenal yang katanya juga bekerja di rumah sakit untuk menterapi bayi - bayi, ternyata hanya menempati -aku fikir sih kontrakan atau rumah yang memang bentuknya seperti kontrakkan 2 pintu- rumah yang begitu sederhana.
Ketika aku ingin mengetuk pintu tiba - tiba beliau keluar, membawa pakain yang hendak di jemur. Beliau langsung menembak bertanya, "ingin punya anak atau sedang hamil ?".  Aku tergugup ketika langsung ditanya seperti itu, dan ku jawab "ingin punya anak Mak".
"hayu masuk". Pinta Mak Jonah
Di dalam rumah bercat hijau pucat ini, hanya ada satu 'bale', kasur yang bisa di gelar di lantai dan bantal di atasnya.
"silahkan tiduran terlentang " lanjut Mak.
Baru dapat ku lihat wajah Mak Jonah dengan jelas, ternyata sudah sangat tua, kira usianya 70-an, sepertinya hanya tinggal sendiri di rumah ini. Menggunakan kebaya tua, kain jarit dan penutup di kepala.
Aku hanya menurut, beliau melanjutkan. "sini emak pegang perutnya ..." Beliau sedikit menekan tangannya di perutku.
"peranakannya ini ada, tapi jauh, nti mak betulin, tapi ga sekarang ya? pamali. Nanti malem, malem Jumat balik lagi kesini, tapi jangan kelamaan soalnya nanti malem banyak yang dateng ada kira - kira sepuluh orang. Trus saya punya rujak nih dikasih sama orang yang nujuh bulanan, yang dah sembilan taon belon punya anak, dimakan ya, mudah - mudahan ketularan " cerocos Mak jonah dalam logat betawi yang kental.
"terus nanti kalo kesini, bawa toge, wortel, remis sama ikan lele yang dah mateng". Aku dan suami hanya berpandangan.

Setelah selesai, kami berpamitan pulang, dalam perjalanan kami saling terdiam sibuk bertanya tentang pesan Mak Jonah dalam pikiran masing - masing. Remis, Ikan lele, tauge, wortel, hmm sebetulnya makanan yang memang sangat baik untuk kesuburan, tetapi yang aneh mengapa harus dibawa ke tempat Mak dan mengapa prosesi 'megang perut' nya mesti malem Jum'at. Ah, jelas kami dua manusia naif sangat bingung, berdiskusi sejenak ternyata kami tidak juga menemukan sesuatu yang 'pas' di fikiran kami.
Kami pun berdiskusi dengan bapak ku, kuceritakan semua kejadiannya. Dan bapak hanya berkata :
"kemarin sewaktu berobat ke dokter percayanya sama siapa? dikasih obat ga? percayanya masih sama siapa?". Kami terdiam. "bersihkan hati, nanti kalau memang mau ke sana lagi, bersihkan hati dengan cara sholat hajat minta sama Allah terlebih dahulu ..." Lanjut Bapak.
Mendengar nasihat bapak kamipun memutuskan untuk berangkat lagi ke sana nanti malam.

Setelah hubby pulang kerja, kamipun berangkat ke tempat Mak Jonah, berhubung hubby sampai rumah ba'da maghrib akhirnya kami baru kesana sekitar jam tujuh malam. Dan benar saja, tadi pagi Mak berpesan agar datang lebih cepat karena biasanya kalau malam Jumat banyak yang datang. Jadilah kami 'pasien' nomor sekian.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran kami. Seperti sebelumnya Mak kemudian memintaku untuk membuka baju bagian perut, dan meminta mas untuk membuka makanan yang dibawa sambil membaca sesuatu yang dicontohkan Mak, lengkap dengan gerakannya. Tidak hanya sampai di situ ternyata Mak juga punya doa khusus  yang harus kami baca nanti malam.

Hehe, kejadian ini sudah hampir satu tahun yang lalu, dan merupakan bagian penting dari semua ikhtiar kami untuk mendapatkan baby. Ah, Rabb ku serahkan semuanya padaMu.

Sabtu, 31 Maret 2012

Dini Hari

Masyaallah dahsyat banget deh ini kafein, jarang - jarang minum kopi, sekalinya minum ga bisa tidur ,,, pussing. Biasanya kan nempel bantal sebentar langsung pules, alias pelor -nempellangsungmolor- hehe hadeuh.

Alternatif pertama ambil leptop, buka fesbuk, liat2 wall orang (kurang kerjaan), ditemani alunan dengkuran si mas disamping, yang kalau didengar dari suara dengkurannya sepertinya cape banget, maklum doi habis jadi tuang ojek seharian ^_^, sambil berharap dalam hati, ayo dong ngantuuuuuk,.,,,, tik,,tok,,,tik,,,tok,,,,hix belum ngantuk juga.

Alternatif kedua, buka blog dan menumpahkan semua yang dirasakan dalam bentuk tulisan, kalau tiba - tiba tulisan langsung putus alias ilang berarti saya sudah tidur yah saudara - saudara.

Baiklah saya akan mulai cuhat.
Rasanya berbagai hal meloncat - loncat dalam otak saya beberapa minggu terakhir ini, sebetulnya sih sudah sedari beberapa bulan yang lalu tapi makin kesini loncatan - loncatan itu makin tinggi dan jumlahnya makin bertambah, membuat saya tidak sabar dan ingin sesegera mungkin merealisasikannya.
Hmm, ternyata saya tidak sekuat itu, semakin saya sering menjenguk orang tua, semakin kuat rasa saya untuk selalu dekat dan kembali tinggal di depok dekat dengan mereka (bukan tinggal di rumah mereka tetapi beli lagi rumah disana), ingin rasanya setiap hari melihat mereka, membersihkan debu dari lemari mereka, mengantar masakan perdana ku, mengantar anak - anakku setiap sore untuk bermain dengan mbahnya, mencium tangannya setiap hari, atau hanya untuk berdiam - diam sambil melihat tivi bersama.

Lalu apakah saya hanya menikmati rasa itu semua, oh tidak kami (saya n hubby) dah searching, muter - muter, ngubek - ngubek daerah depok dua timur demi mencari rumah yang sesuai dengan angan kami -baca dana-, dan hasilnya ,,, hmm belum ketemu, Allah masih mentakdirkan kami di sini. Sebetulnya mamah saya sangat senang jika kami bisa tinggal di rumahnya saja, tapi my hubby tak mau, beliau berfikir kita tidak akan pernah berkembang jika tinggal di rumah orang tua, yupz saya setuju.

Rabu, 07 Maret 2012

to : my mas bro.

untuk kakakku tersayang,

sungguh usiamu sudah tidak lagi muda, aku saja sudah hampir 27 tahun.
wajah dan postur tubuhmu memang imut, tapi lambat laun akan menyesuaikan dengan usia.
kakakku,
betapa hati ini sedih tatkala aku pulang ke rumah dan aku mendapati dirimu sedang merokok atau sedang terpaku di depan televisi.
sebuah pemandangan yang sangat tidak mengenakkan di usiamu yang sekarang
usia yang seharusnya sudah diwarnai dengan tawa riang anak dan istrimu
usia yang seharusnya sudah memikul tanggung jawab sebagi seorang suami

ah, kakakku
berkumpul tak jelas dengan teman - temanmu yang terkadang tidak jelas masih saja kau lakukan
kapan, kapan kau akan bekerja dengan penghasilan yang tetap
atau membuka usaha yang menunjukkan kesungguhanmu
kesungguhan yang seharusnya kau tunjukkan untuk Allah, calon istrimu dan keluarga mereka
entah apa yang sedang kau cari kakakku,,,

tahukah kau mamak selalu menteskan air mata diantara sujud malam panjangnya
selalu  dirimu yang diprioritaskan, seperti yang selalu bapak lakukan dulu sewaktu kita berempat masih kecil kecil.
karena kaulah dulu yang menjadi kebanggaannya tatkala kau mau masuk ke dalam pesantren sedangkan kita bertiga tidak.
kakakku, hingga saat ini kau masih menjadi kebanggaanku,
ayolah kita maju bersama
doaku selalu bersamamu.

Senin, 27 Februari 2012

mimpi, cita - cita dan doa

Sampai kapan saya akan bertahan di tempat ini,
hmmm mungkin tulisan kali ini bercerita sedikit tentang ke-galau-an hati saya, mudah-mudahan bukan 'galau'nya anak ABG sekarang, tetapi lebih kepada kebingungan, kebimbangan tentang cita - cita, mimpi dan entah enaknya disebut apa (hahay mudah2n jelas).
Ok, begini setelah kurang lebih 1 tahun setengah saya dan suami terdampar -baca:dapet rumah- di Bekasi, sayapun mendapatkan pekerjaan di tempat ini, sebuah sekolah yang tidak pernah saya sangka cukup prestisius di daerah ini, bahkan sang pemiliki sekolah pun adalah orang pertama di Kabupaten Bekasi. Alhamdulillah secara salary dan fasilitas yang diberikan oleh sekolah ini cukup menarik, sebetulnya ini tidak pernah saya hayalkan ketika hendak hijrah dahulu dan saat ini membuat saya berfikir logis jika saya tetap bertahan di sekolah ini tentulah secara ekonomi tidak akan bermasalah.

Di lain pihak (nah ini yang seru), orang tua saya di Depok baru saja membentuk sebuah Yayasan pendidikan. Sebutlah TPA Taman Pendidikan Alquran dan sangat bercita - cita membuat TK, saat ini sudah ada 34 siswa di sana, kehadiran saya sebetulnya sangat diperlukan di sana karena memang jumlah guru yang terbatas dan butuh pengelolaan yang profesional. Secara akademik, pengalaman dan personal memang sayalah orangnya (yg ini agak berlebihan PD). Meskipun tidak pernah langsung meminta tetapi saya merasakan orang tua saya sangat ingin saya kembali dan mengelola tempat tersebut.

Pihak yang lain, saya dan suami dengan segala keperluan rumah tangga mudanya masih memiliki beberapa cita - cita yang terus kami kejar, dan di sinilah secara ekonomi kami menemukan perbaikkannya untuk mewujudkan semua.

Hmm, saya yakin Allah lah yang mengirim saya ke tempat ini, entah besok dimana yang terpenting saat ini saya berusaha belajar banyak. Belajar menjadi keluarga kecil sakinah, bisa membahagiakan orang tua dan  belajar berdakwah untukNya.

Rabbi bantu kami,,,

Senin, 20 Februari 2012

Lagi

Lagi, aku tersesat dalam labirin pikiran sendiri. Begitu dahsyatnya beberapa hari ini, menjungkirbalikan semua dengan sebegitu mudahnya. Ah, atau aku yang memang meng-hiperbolakan semua, begitu lemah dalam memandang satu titik.
Aku jatuh lagi dalam lubang ini ya Rabb, dalam lubang yang penuh dengan rasa cemburu, iri, ketidakpuasan. Rasa - rasa yang kembali meluluhkan tanggul yang sempat kubangun dengan kokoh. Mendobrak, hingga ku tak bisa menahan ketika aku terisak sendiri dari dalam helm sewaktu berangkat dan pulang sekolah. Aku tak tahu mengapa aku bisa sesedih ini, harus mengadu kepada siapa, menuliskan dalam blog ini mungkin solusinya, mengeluarkan lagi isi kepala yang berhasil membuat ku tak nyaman ketika sendiri.
Cemburu mendengar kabar tentang ketiga teman baikku hamil, sedangkan aku yang menikah paling dahulu tidak juga kunjung hamil. Hm, seperti ada batu es yang di taruh di dalam dada, dingin , "aku kapan ya Allah ... ?" bisikku dalam hati seperdetik setelah ku baca sms teman yang mengabarakan kalau dia hamil.

*tulisan tidak jelas, tidak saya rekomendasikan untuk dibaca ;(

Kamis, 16 Februari 2012

Jika anda sedang hamil ....

Tulisan ini seharusnya saya share satu tahun yang lalu karena informasi yang ada di dalam tulisan ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu, tapi yah beginilah penulis blog amatiran, semuanya serba mood mood an hehe.
Tahun kemarin saya mengajar kelas 3 SD, sekarang saya mengajar kelas 2 SD. Subhanallah, menjadi guru adalah pengalaman terhebat saya, begitu banyak ilmu penerapan (eh) yang saya dapatkan, ini salah satunya.

Salah satu orang tua siswa curhat kepada saya tentang kondisi anaknya yang sebetulnya pintar, tetapi kurang percaya diri, cepat menangis ketika teman mengganggu dan begitu tertutup. Pada awal semester saya sempat kaget karena ibu ini sangat reaktif jika sang anak diganggu temannya hingga menangis, biasanya si ibu akan langsung menelepon saya dimalam hari dan menginterogasi. Kejadiaan ini terus terjadi berulang ulang, sebetulnya sebagai guru saya sudah sering meminta teman - temannya untuk tidak mengganngu, tapi karena anak ini terlihat begitu lemah maka tidak jarang dia sering menjadi sasaran  ledekan  teman2nya, apa lagi si anak memiliki kekurangan bekas jahitan bibir sumbing di wajahnya.
Sampai suatu hari ada kejadian yang serupa,lagi - lagi salah satu teman si anak tidak sengaja memukul wajahnya, hati saya langsung berdegup kencang menunggu telepon ibu ini di malam hari nanti, menyiapkan hati, emosi dan telinga. Tapi ternyata yang ditunggu tak kunjung menelpon, saya tunggu malam berikutnya juga tidak ada yang menelpon terkait anak ini.
Sampai dengan  pengambilan rapot, kami bertemu subhanallah sikap ibu ini berubah 180 derajat, perlu pembaca ketahui sebelumnya jika bertemu dengan saya si ibu akan bersikap yang agak menjengkelkan menurut saya seperti melipat tangganya di dada, memperhatikan saya dari ujung kepala hingga kaki dengan mata yang menyelidik, hiiiii tatapan yang sangat mengerikan. Tapi kali ini pada semester kedua beliau sangat berbeda, sambil tersenyum dan tanpa mempermasalahkan nilai - nilai anaknya di rapot dan tanpa komplain tentang teman- teman si anak di sekolah (mungkin si ibu habis dapet pencerahan atau habis melahap buku2 parenting kali ye ..), beliau malah bercerita tentang sejarah si anak dengan sesekali mengusap air mata yang mencoba lari dari pagar bulu mata ibu yang landai.
Singkat kata beliau menasehati saya, agar nanti ketika saya sedang hamil jagalah ketenangan hati ibu karena keresahan ibu hamil akan sangat mempengaruhi kondisi mental anak ketika mengarungi dunia nyata ini. Jadi ketika si ibu ini sedang mengandung anak pertamanya yang menjadi murid saya di kelas tiga, beliau sempat malu ketika teman - temannya ada yang memanggil 'bumil' singkatan untuk ibu hamil,-sebetulnya saya tidakhabis pikir kenapa ibu ini malu- ibu itu menjadi minder ditambah lagi kondisi ekonomi yang belum baik menurut beliau. Ketika bercerita beliau juga membandingkan dengan adik sang kaka yang jauh lebih percaya diri, beliau menambahkan berbeda sekali kondisi kehamilan kakanya dengan kondisi kehamilan adiknya dimana ketika sang ibu sedang mengandung adiknya, kondisi ekonomi sudah jauh lebih baik, "kemana - mana saya udah membawa mobil sendiri bu ,,,," tambahnya.
"saya merasa bersalah kepada fian -panggilan si anak-, karena secara tidak langsung saya lah yang membentuk sikap fian hingga menjadi anak yang tidak percaya diri ..."

Hm, sebuah ilmu yang sangat bagus untuk saya pribadi, meskipun sebetulnya ketenangan tidak seharusnya diukur dari materi yang dimiliki. Tapi garis merahnya adalah : bersyukur, berbahagia, ikhlas, tidak manja, tetap bekerja keras ketika sedang mengandung, karena anak yang kita harapkan adalah anak yang kita fikirkan *calon emak yang mencoba berfilosf.

Senin, 09 Januari 2012

sendiri

dalam sendiriku aku menulis, dalam sendiriku aku diam. dalam sendiriku aku terus berfikir. tentang segala nya yang berubah begitu cepat. berputar seolah tak menungguku untuk siap. aku belajar dengan segera. kadang aku merasa tak sanggung mengikutinya. tapi Dia mengajak ku bergerak terus dengan cepat.
tiga tahun ini aku mengikuti ajakanMu saja. atau itu yang memang selalu aku lakukan seumur hidupku. karena Kau lah pusat ku.

Minggu, 08 Januari 2012

AC baru , cihuy.

Brrrr dingin, itu yang kami rasakan ketika memasuki kamar kami yang berukuran 3 x 3 meter persegi. Hihi, norak ya ?, biarin aja. Karena memang ini Air Conditioner pertama yang kami miliki, senang karena ini merupakan hasil jerih payah sendiri -jerih payah my hubby tepatnya-.
Sebetulnya kami tidak terlalu membutuhkan saat ini, karena sekarang sedang musim penghujan dan sedang - sedangnya berada di masa 'cuaca ekstrim', tetapi uang untuk membeli nya adanya sekarang dengan pertimbangan takut uang terpakai (karena kalau sudah musim kemarau, bekasi puanasnya naudzubullah) dan harga Ac di musin ini tentulah tidak setinggi di musim kemarau. Hehe analisa yang aneh ya.

Tapi apapun itu Ac Sharp 1 / 2 Pk, Plasma Clustur Inverter sudah bertengger nyaman di kamar kami. perburuan Ac sebetulnya sudah dimulai sejak awal desember 2011, survey merck, seri, keunggulan, kekurangan dan yang terpenting harga sudah kami lakukan jauh - jauh hari. Sekedar perbandingan di toko Home Solution harga Ac se-tipe di atas berkisar Rp. 3.999.000, atau di toko yang terdapat di mall - mall yah tidak jauh dari itu bahkan ada yang menawarkan hingga 4 jutaan. Haaa, sangat tidak terjangkau.

Akhirnya kami memutuskan untuk berburu ke pasar Proyek Bekasi, dekat stasiun Bekasi. Beberapa toko kami jelajahi,  dan toko terbaik secara harga jatuh pada toko akiong tua dan dengan perdebatan sengit dan penawaran yang alot dengan baba toke kami mendapatkan harga yang cukup bagus -menurut kami-, yaitu Rp. 3.200.000. DEAL.
Hmm, tak tahulah apa masih mahal atau tidak, tapi itulah harga terendah yang kami dapatkan. Dan hasilnya,,TARAAAAA, Brrrrrrrr - nya kamar kecil ku.