Sabtu, 01 Juni 2013

Jumat, 31 Mei 2013

Level Satu

Tak terasa sudah berada di bulan Mei 2013, yang berarti Tahun Ajaran 2012 - 2013 akan segera berakhir (saya seorang guru). Hmm, tahun ajaran yang penuh dengan kejutan, tantangan, dan kegembiraan -tahun pertama di level satu Sekolah Dasar-.
Tapi tahun ini juga sebetulnya tahun ke 3 saya di tempat kerja saya yang baru, tahun ke 3 menurut saya merupakan tahun 'ternyaman' setelah melewati tahun pertama dan kedua yang masih disebut adaptasi. Di tahun ke 3 ini saya sudah mengerti ritme kerja, karakter taman - teman dan celah yang bisa saya gunakan untuk melejitkan potensi (waw lebay). Meskipun saya tidak pernah tahu sampai kapan Allah akan menyampaikan jodoh saya di tempat ini, tempat yang cukup nyaman untuk ukuran saya.
Mendapat amanah memegang kelas satu sekolah dasar sebetulnya tidak pernah terfikirkan oleh saya sebelumnya, tapi ternyata ilmu yang saya dapatkan dan kembangkan sangat  tak ternilai, ILMU MEMPERBAIKI DIRI tepatnya. Memperbaiki diri agar menjadi lebih sabar menjadi guru dan menjadi istri, juga untuk menjadi ibu kelak. Di bawah ini foto - foto murid - murid ku tersayang:



Calon - Calon orang besar yang selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya.


Kamis, 28 Juni 2012

Mertua ku baik sekali

"DP rumah ini 25 juta, alhamdulillah mertua yang bayarin ... " curhat teman ku dalam obrolan singkat kita.
"iya nih habis pulang kampung, alhamdulillah di bekalin sama orang tua, cukuplah buat beli motor ..." teman ku yang lain.
"kalau rumah ini hasil patungan orang tua ku sama orang tua suami ..."
"kemarin mertua ku habis kirim satu set kursi jati ke rumah ..."

Subhanallah, saya takjub rasanya ketika sedang membicarakan suatu hal tentang rumah misalkan dan terselip kata - kata seperti di atas. Terkadang terselip rasa iri sebetulnya, orang tua ku dan orang tua suami bukanlah juragan tanah, bukan juragan kontrakan, bukan pemilik pulau, bukan pemilik kebon sawit, atau pemilik mas batangan. Orang tua kami begitu sederhana, jauh dari kata melimpah, selain kelapangan hati yang begitu luas. Iri ( hmmm, astaghfirullah, sepertinya jutaan istighfar harus saya ucapkan) , seharusnya saya mengucap beribu hamdalah, dimulai dari proses pembelian rumah kecil kami, suami sama sekali tidak menginginkan ada bantuan dari orang tua, isi rumah pelan - pelan juga kami lengkapi(hihi ... ampuni saya bila ujub ya Allah), alhamdulillah.

Dan keberkahan - keberkahan terus menerus kami temukan dalam bahtera kapal kecil kami, kami yakin doa mereka, doa orang tua kami yang soleh dan solehah yang begitu melimpah untuk rumah tangga kami, sehingga kami tidak mengalami kesulitan untuk mengayuh dan menghadapi percikan - percikan ombak dan batu karang di lautan pernikahan ini, meskipun tanpa bantuan materi berlimpah dari mereka.

"Rabbigfirli waliwalidayya  warhamhuma kamaa rabbayani saghira ", Rabb, sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil ...

Kamis, 10 Mei 2012

Ketika kita bertetangga,


Basicly saya termasuk seorang introvert, ketika remaja dulu saya malas keluar rumah, sangat menikmati yang namanya sendiri di kamar, mencorat coret buku yang saya sebut diary sambil dengerin radio, merubah – rubah posisi isi kamar, pencet –pencet hp dan kalau keluar rumah juga lebih senang sendiri, makan bakso sendiri, ke toko buku sendiri  jalan – jalan di mall lihat – lihat baju sendiri (kasian banget ya), tapi bukan bearti saya tidak punya teman, memang sih teman saya hanya sedikit bisa dihitung oleh jari hehe (tambah kasian ya), jadi kalau teman saya yang sedikit itu kebetulan tidak bisa diajak jalan, biasanya saya tidak akan ambil pusing ya jalan saja sendiri.
Jadi proses sosialisasi tidak sempurna saya lakukan ketika masa – masa remaja, terutama dengan lingkungan sekitar rumah.
Ternyata efek dari semua itu sangat saya rasakan sekarang ini, ketika saya sudah berumah tangga dan memiliki rumah sendiri, mau tak mau saya menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya tidak lagi berada di bawah nama besar orang tua, apa lagi tempat tinggal saya dan suami sekarang cukup jauh dari rumah orang tua, jadi benar – benar kami lakukan dan mulai sendiri dengan nama baik kami sendiri yang harus kami jaga. Keluar dari tempurung yang bernama “introvert” tidaklah mudah, apalagi saya saat ini adalah wanita bekerja yang setiap harinya senin sampai dengan sabtu harus meninggalkan rumah mulai pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore. Yang berarti waktu saya untuk bersosialisasi dengan tetangga juga belum bisa maksimal, ketika hari minggu adalah waktu untuk keluarga terkadang penuh padat untu acara arisan keluarga, mengunjungi orang tua, mengunjungi mertua, atau mengurusi hal – hal yang tidak sempat dilakukan pada hari kerja, tetangga saya pun pada hari minggu punya agenda keluarga masing – masing, yah jadinya begitu deh.
“Gagap nenangga” mungkin itu istilah untuk keadaan saya sekarang ini,  meskipun mungkin mereka paham tentang kondisi yang bekerja jadi tidak bisa maksimal “nenagga”,  dan forum – forum kumpul tetap saya coba datangi seperti arisan Rt di hari minggu, atau kalau pulang mengajar dan kebetulan dekat rumah sedang ada ibu – ibu “ngumpul” saya coba sempatkan bergabung sebentar, tetapi  dengan alasan ingin mandi dan memasak saya kemudian pamit,  hehe padahal lebih kepada males (gak beres banget yakz saya). 

Sekarang saya masih menikmati masa - masa sendiri itu, saat pulang mengajar daripada ngobrol - ngobrol gak jelas sama tetangga yang pada akhirnya hanya membicarakan orang lain bukannya lebih enak kalau duduk di kursi sambil menikmati serial korea, ahaha (introvert voice).

Senin, 09 April 2012

Mak Jonah

Liburan hampir berakhir, untuk tahun ini liburan aku habiskan di rumah mamah ku di Depok. Hmmm, sejenak tidak melakukan apa - apa, melepaskan semua yang selama ini terasa membuat 'mumet'. Hingga malam hari ketika aku mau kembali ke rumah ku di bekasi, mamah tiba - tiba bertanya " mau ga coba dipegang perutnya ?",
"ha dipegang (aku mengerti maksudnya mengenai aku yang belum diberikan anak), sama siapa ?". Jawabku sekenanya.
"sama mak Jonah, tetangga kita mba Ade dulunya juga lama tidak hamil - hamil, kak Masnah juga, tapi habis dipegang perutnya sama Mak Jonah terus bisa hamil ... "
Aku menarik nafas, dan hanya menjawab, "baiklah".

Setelah bertanya alamat, akhirnya aku dan mas Arie ba'da shubuh berangkat mencari alamat Mak Jonah seorang dukun urut yang terkenal karena biasa mengurut anak bayi yang sakit, ibu yang sedang hamil, atau wanita yang ingin hamil. Memang untuk urusan mengurut bayi aku tidak sangsi lagi, karena keponakan - keponakan ku jika rewel terus dibawa kesana, bisa menjadi tenang.
Tapi untuk urusan wanita yang ingin memiliki anak, aku baru mendengarnya. Fikir ku memang tak ada salahnya jika aku coba, 'mumpung' libur.
Tidak begitu sulit menemukan alamat Mak Jonah, yaitu Jalan Maliki II, sebelum Pasar Agung Depok II.
Masih pagi, udara sangat segar, sepi, meskipun beberapa kali aku melihat orang - orang yang sepertinya akan berjualan di pasar sedang mendorong gerobak ada juga yang menggunakan motor berisi sayuran hasil bumi. Salah satu wajah pekerja keras pribumi,
 "Masuk Gang Maliki II, lurus saja nanti mentok belok kanan, ikutin jalan setapak saja nanti ada Masjid dan SD nah disampingnya persis ". Terngiang- ngiang suara sepupuku memberikan arah jalan.
Sedikit bertanya kepada -sepertinya- pedagang yang lewat, dimana rumah Mak Jonah, yang ternyata aku sedang berada di depan rumahnya.
Sedikit amaze karena aku kira beliau seorang dukun urut terkenal yang katanya juga bekerja di rumah sakit untuk menterapi bayi - bayi, ternyata hanya menempati -aku fikir sih kontrakan atau rumah yang memang bentuknya seperti kontrakkan 2 pintu- rumah yang begitu sederhana.
Ketika aku ingin mengetuk pintu tiba - tiba beliau keluar, membawa pakain yang hendak di jemur. Beliau langsung menembak bertanya, "ingin punya anak atau sedang hamil ?".  Aku tergugup ketika langsung ditanya seperti itu, dan ku jawab "ingin punya anak Mak".
"hayu masuk". Pinta Mak Jonah
Di dalam rumah bercat hijau pucat ini, hanya ada satu 'bale', kasur yang bisa di gelar di lantai dan bantal di atasnya.
"silahkan tiduran terlentang " lanjut Mak.
Baru dapat ku lihat wajah Mak Jonah dengan jelas, ternyata sudah sangat tua, kira usianya 70-an, sepertinya hanya tinggal sendiri di rumah ini. Menggunakan kebaya tua, kain jarit dan penutup di kepala.
Aku hanya menurut, beliau melanjutkan. "sini emak pegang perutnya ..." Beliau sedikit menekan tangannya di perutku.
"peranakannya ini ada, tapi jauh, nti mak betulin, tapi ga sekarang ya? pamali. Nanti malem, malem Jumat balik lagi kesini, tapi jangan kelamaan soalnya nanti malem banyak yang dateng ada kira - kira sepuluh orang. Trus saya punya rujak nih dikasih sama orang yang nujuh bulanan, yang dah sembilan taon belon punya anak, dimakan ya, mudah - mudahan ketularan " cerocos Mak jonah dalam logat betawi yang kental.
"terus nanti kalo kesini, bawa toge, wortel, remis sama ikan lele yang dah mateng". Aku dan suami hanya berpandangan.

Setelah selesai, kami berpamitan pulang, dalam perjalanan kami saling terdiam sibuk bertanya tentang pesan Mak Jonah dalam pikiran masing - masing. Remis, Ikan lele, tauge, wortel, hmm sebetulnya makanan yang memang sangat baik untuk kesuburan, tetapi yang aneh mengapa harus dibawa ke tempat Mak dan mengapa prosesi 'megang perut' nya mesti malem Jum'at. Ah, jelas kami dua manusia naif sangat bingung, berdiskusi sejenak ternyata kami tidak juga menemukan sesuatu yang 'pas' di fikiran kami.
Kami pun berdiskusi dengan bapak ku, kuceritakan semua kejadiannya. Dan bapak hanya berkata :
"kemarin sewaktu berobat ke dokter percayanya sama siapa? dikasih obat ga? percayanya masih sama siapa?". Kami terdiam. "bersihkan hati, nanti kalau memang mau ke sana lagi, bersihkan hati dengan cara sholat hajat minta sama Allah terlebih dahulu ..." Lanjut Bapak.
Mendengar nasihat bapak kamipun memutuskan untuk berangkat lagi ke sana nanti malam.

Setelah hubby pulang kerja, kamipun berangkat ke tempat Mak Jonah, berhubung hubby sampai rumah ba'da maghrib akhirnya kami baru kesana sekitar jam tujuh malam. Dan benar saja, tadi pagi Mak berpesan agar datang lebih cepat karena biasanya kalau malam Jumat banyak yang datang. Jadilah kami 'pasien' nomor sekian.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran kami. Seperti sebelumnya Mak kemudian memintaku untuk membuka baju bagian perut, dan meminta mas untuk membuka makanan yang dibawa sambil membaca sesuatu yang dicontohkan Mak, lengkap dengan gerakannya. Tidak hanya sampai di situ ternyata Mak juga punya doa khusus  yang harus kami baca nanti malam.

Hehe, kejadian ini sudah hampir satu tahun yang lalu, dan merupakan bagian penting dari semua ikhtiar kami untuk mendapatkan baby. Ah, Rabb ku serahkan semuanya padaMu.

Sabtu, 31 Maret 2012

Dini Hari

Masyaallah dahsyat banget deh ini kafein, jarang - jarang minum kopi, sekalinya minum ga bisa tidur ,,, pussing. Biasanya kan nempel bantal sebentar langsung pules, alias pelor -nempellangsungmolor- hehe hadeuh.

Alternatif pertama ambil leptop, buka fesbuk, liat2 wall orang (kurang kerjaan), ditemani alunan dengkuran si mas disamping, yang kalau didengar dari suara dengkurannya sepertinya cape banget, maklum doi habis jadi tuang ojek seharian ^_^, sambil berharap dalam hati, ayo dong ngantuuuuuk,.,,,, tik,,tok,,,tik,,,tok,,,,hix belum ngantuk juga.

Alternatif kedua, buka blog dan menumpahkan semua yang dirasakan dalam bentuk tulisan, kalau tiba - tiba tulisan langsung putus alias ilang berarti saya sudah tidur yah saudara - saudara.

Baiklah saya akan mulai cuhat.
Rasanya berbagai hal meloncat - loncat dalam otak saya beberapa minggu terakhir ini, sebetulnya sih sudah sedari beberapa bulan yang lalu tapi makin kesini loncatan - loncatan itu makin tinggi dan jumlahnya makin bertambah, membuat saya tidak sabar dan ingin sesegera mungkin merealisasikannya.
Hmm, ternyata saya tidak sekuat itu, semakin saya sering menjenguk orang tua, semakin kuat rasa saya untuk selalu dekat dan kembali tinggal di depok dekat dengan mereka (bukan tinggal di rumah mereka tetapi beli lagi rumah disana), ingin rasanya setiap hari melihat mereka, membersihkan debu dari lemari mereka, mengantar masakan perdana ku, mengantar anak - anakku setiap sore untuk bermain dengan mbahnya, mencium tangannya setiap hari, atau hanya untuk berdiam - diam sambil melihat tivi bersama.

Lalu apakah saya hanya menikmati rasa itu semua, oh tidak kami (saya n hubby) dah searching, muter - muter, ngubek - ngubek daerah depok dua timur demi mencari rumah yang sesuai dengan angan kami -baca dana-, dan hasilnya ,,, hmm belum ketemu, Allah masih mentakdirkan kami di sini. Sebetulnya mamah saya sangat senang jika kami bisa tinggal di rumahnya saja, tapi my hubby tak mau, beliau berfikir kita tidak akan pernah berkembang jika tinggal di rumah orang tua, yupz saya setuju.

Rabu, 07 Maret 2012

to : my mas bro.

untuk kakakku tersayang,

sungguh usiamu sudah tidak lagi muda, aku saja sudah hampir 27 tahun.
wajah dan postur tubuhmu memang imut, tapi lambat laun akan menyesuaikan dengan usia.
kakakku,
betapa hati ini sedih tatkala aku pulang ke rumah dan aku mendapati dirimu sedang merokok atau sedang terpaku di depan televisi.
sebuah pemandangan yang sangat tidak mengenakkan di usiamu yang sekarang
usia yang seharusnya sudah diwarnai dengan tawa riang anak dan istrimu
usia yang seharusnya sudah memikul tanggung jawab sebagi seorang suami

ah, kakakku
berkumpul tak jelas dengan teman - temanmu yang terkadang tidak jelas masih saja kau lakukan
kapan, kapan kau akan bekerja dengan penghasilan yang tetap
atau membuka usaha yang menunjukkan kesungguhanmu
kesungguhan yang seharusnya kau tunjukkan untuk Allah, calon istrimu dan keluarga mereka
entah apa yang sedang kau cari kakakku,,,

tahukah kau mamak selalu menteskan air mata diantara sujud malam panjangnya
selalu  dirimu yang diprioritaskan, seperti yang selalu bapak lakukan dulu sewaktu kita berempat masih kecil kecil.
karena kaulah dulu yang menjadi kebanggaannya tatkala kau mau masuk ke dalam pesantren sedangkan kita bertiga tidak.
kakakku, hingga saat ini kau masih menjadi kebanggaanku,
ayolah kita maju bersama
doaku selalu bersamamu.