Sabtu, 05 Juni 2010

aku menyebutnya "Hijrah" ...

Menginjak tahun ke dua pernikahan kami saat ini, Allah masih memberikan aku kesempatan untuk aku menikmati dunia ini hanya berdua dengan my hubby. Insya Allah aku tetap bersyukur ya Allah, berilah aku kekuatan untuk selalu bersyukur.

Layar dalam fikiran ini kembali berputar 1,5 tahun yang lalu, saat - saat dimana aku menjalani proses dengan seseorang yang sekarang menjadi my hubby, saat itu aku selalu memimpikan akan memiliki suatu kehidupan di suatu tempat bersama keluarga tercinta, di suatu tempat yang berada cukup jauh dari kota tempat tinggal ku sekarang, entah mengapa aku selalu membayangkan sesuatu yang indah jika aku keluar dari kota ini, mencari sesuatu yang baru ceritanya. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk membeli sebuah rumah, rumah yang tidak terlalu besar (spt dalam angan2 ku) di lokasi yang nyaman, meskipun di sebuah kota yang jika orang bertanya "beli rumah dimana ?", dan aku menjawab "Bekasi Timur ?" pasti mereka akan bertanya lagi "lho kok bekasi ? jauh banged ? kan disana panas ?" dan aku hanya bisa tersenyum.

yah apapun yang orang bilang, mereka hanya tidak mengerti bagaimana perasaan ku saat melihat rumah itu, jatuh cinta, iya, itu yang pertama kali kami rasakan ketika untuk pertama kali melihat lokasi rumah itu. Suka - sangat suka- semoga memang benar jodoh kami selamanya. Banyak hal yang harus dipikirkan dengan matang sebenarnya ketika kami harus meninggalkan kota ini (depok.red).
Yang pertama, Orang tua. Status aku dalam keluarga adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan semua kakak - kakak ku adalah laki - laki, dan orang tua aku cukup berat jika aku harus meninggalkan mereka. Sebetulnya ada rasa dalam hati untuk membawa mereka serta, tapi yah mereka masih memiliki kehidupan sosial di sana yang tidak mungkin bisa langsung ditinggalkan begitu saja. Dan pada awalnya mamah dan bapakku merasa seperti di atas -berat jika aku harus pisah dengan mereka- tetapi alhamdulillah, mereka adalah orang - orang yang hebat, berpikiran tidak sempit dan sangat paham agama. Lambat laun dalam perjalanan proses renovasi rumah mamahku menunjukkan dukungannya kepada kami alhamdulillah. Satu hal yang sangat penting mernurutku selain Ridho agama dan suami adalah Ridho orang tuaku. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah semoga ini awal yang baik.
Tinggal bersama orang tua sendiri pada dasarnya sangatlah menyenangkan, aku dan suami bekerja. Aku sendiri baru pulang pada jam 16.30 dan my hubby 18.00, aku berangkat mengajar pukul 06.00 dan my hubby 05.30. bangun tidur mamahku tersayang sudah membuatkan sarapan dan pulang mengajar mamahku juga sudah menyiapkan makan malam. Hmmmm, fabiayyi alaikuma tukaziban....
Tetapi sebetulnya kondisi itu tidaklah sehat (menurut aku dan my hubby) , tidak ada kemandirian mengatur disana. Inilah salah satu hal yang membuat ku sangat ingin tau kemampuan aku jika tinggal hanya berdua nanti, bisakah aku mengelola semuanya sendiri ???

Yang kedua, pekerjaanku. SMPIT Darul Abidin,,,,,,, aku mengajar di sekolah itu, sebuah sekolah yang bisa dibilang eksklusif berbasis Islam. Hampir tiga tahun aku mengajar di sana, banyak sekali yang telah kudapatkan ilmu, pengalaman, dan teman - teman yang hebat. Sebuah tempat yang sangat bagus untuk proses belajar dan memperbaiki diri. Bagi yang bercita - cita menjadi pendidik sejati (jiah ...) aku rasa bagus jika bekerja dan mengabdi disana. Pada intinya aku sudah nyaman bekerja disana, seluk beluk sekolah sudah mengerti, tetapi entah mengapa hasrat memiliki rumah sendiri begitu kuat, hingga membuat aku berfikir "rizky ku Allah yang mengatur" jadi biarlah kuikuti kata hati ini..

tanggal 26 Juni nanti aku "Hijrah", berharap seperti Hijranya Nabi Muhammad SAW, menemukan sesuatu yang lebih baik disana baik untuk dakwahku, ibadahku, karir ku, dan keluargaku. Bismillah ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar