Rabu, 14 September 2011

menunggu

Pukul 21.05
Kamu belum juga pulang mas. Dan meskipun aku tahu kamu kemana sampai pulang terlambat malam ini tapi aku tetap saja resah. Rasa resah yang sama dalam dua hari ini ku rasakan ketika kamu akan berangkat kerja dan meninggalkan aku di rumah yang sedang bersiap untuk berangkat mengajar (tnyata sensisitif mau datang bulan).
Aku memang kehilangan momen itu, momen dimana setiap pagi aku bisa memeluk pinggang mu erat sambil menceritakan kelucuan murid - murid ku, segala macam aneka ragam sifat orang tua murid, bagaimana kehabatan teman - teman seperjuangan di sekolah ku, bagaimana atraktifnya tetangga kita, keadaan masjid kompleks atau lainnya cerita - cerita yang tidak sempat aku bagi ketika menjelang tidur. Aku begitu rindu dengan semua itu mas, rindu dengan kekacauan dipagi hari karena kamu harus antar aku dahulu ke sekolah sehingga pagi pagi benar kita harus sudah berangkat, rindu membeli sarapan bersama, rindu sampai disekolah ku pagi sekali sampai seringkali aku datang berbarengan dengan bapak satpam. Aku rindu tawa bersama kita di atas motor tuamu setiap pagi.

Malam ini kamu pulang terlambat mas, dan fikiran ku melayang kemana mana, seperti tulisan ini yang juga tak jelas ingin bercerita tentang apa. 
Yah saat ini aku sudah bisa mengendarai motor sendiri, jadi kamu tidak perlu repot - repot mengantar ku ke sekolah pagi pagi sekali, aku pun sebetulnya bisa lebih santai mengerjakan yang lain dipagi hari.
Tapi air mata ini tidak berhenti menetes kalau aku mengingat semua itu, terima kasih mas telah menjadi seseorang yang paling peduli untuk ku, laki - laki ku, imam ku. i love u.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar