"DP rumah ini 25 juta, alhamdulillah mertua yang bayarin ... " curhat teman ku dalam obrolan singkat kita.
"iya nih habis pulang kampung, alhamdulillah di bekalin sama orang tua, cukuplah buat beli motor ..." teman ku yang lain.
"kalau rumah ini hasil patungan orang tua ku sama orang tua suami ..."
"kemarin mertua ku habis kirim satu set kursi jati ke rumah ..."
Subhanallah, saya takjub rasanya ketika sedang membicarakan suatu hal tentang rumah misalkan dan terselip kata - kata seperti di atas. Terkadang terselip rasa iri sebetulnya, orang tua ku dan orang tua suami bukanlah juragan tanah, bukan juragan kontrakan, bukan pemilik pulau, bukan pemilik kebon sawit, atau pemilik mas batangan. Orang tua kami begitu sederhana, jauh dari kata melimpah, selain kelapangan hati yang begitu luas. Iri ( hmmm, astaghfirullah, sepertinya jutaan istighfar harus saya ucapkan) , seharusnya saya mengucap beribu hamdalah, dimulai dari proses pembelian rumah kecil kami, suami sama sekali tidak menginginkan ada bantuan dari orang tua, isi rumah pelan - pelan juga kami lengkapi(hihi ... ampuni saya bila ujub ya Allah), alhamdulillah.
Dan keberkahan - keberkahan terus menerus kami temukan dalam bahtera kapal kecil kami, kami yakin doa mereka, doa orang tua kami yang soleh dan solehah yang begitu melimpah untuk rumah tangga kami, sehingga kami tidak mengalami kesulitan untuk mengayuh dan menghadapi percikan - percikan ombak dan batu karang di lautan pernikahan ini, meskipun tanpa bantuan materi berlimpah dari mereka.
"Rabbigfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira ", Rabb, sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil ...
"iya nih habis pulang kampung, alhamdulillah di bekalin sama orang tua, cukuplah buat beli motor ..." teman ku yang lain.
"kalau rumah ini hasil patungan orang tua ku sama orang tua suami ..."
"kemarin mertua ku habis kirim satu set kursi jati ke rumah ..."
Subhanallah, saya takjub rasanya ketika sedang membicarakan suatu hal tentang rumah misalkan dan terselip kata - kata seperti di atas. Terkadang terselip rasa iri sebetulnya, orang tua ku dan orang tua suami bukanlah juragan tanah, bukan juragan kontrakan, bukan pemilik pulau, bukan pemilik kebon sawit, atau pemilik mas batangan. Orang tua kami begitu sederhana, jauh dari kata melimpah, selain kelapangan hati yang begitu luas. Iri ( hmmm, astaghfirullah, sepertinya jutaan istighfar harus saya ucapkan) , seharusnya saya mengucap beribu hamdalah, dimulai dari proses pembelian rumah kecil kami, suami sama sekali tidak menginginkan ada bantuan dari orang tua, isi rumah pelan - pelan juga kami lengkapi(hihi ... ampuni saya bila ujub ya Allah), alhamdulillah.
Dan keberkahan - keberkahan terus menerus kami temukan dalam bahtera kapal kecil kami, kami yakin doa mereka, doa orang tua kami yang soleh dan solehah yang begitu melimpah untuk rumah tangga kami, sehingga kami tidak mengalami kesulitan untuk mengayuh dan menghadapi percikan - percikan ombak dan batu karang di lautan pernikahan ini, meskipun tanpa bantuan materi berlimpah dari mereka.
"Rabbigfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira ", Rabb, sayangilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar